Tell You What I Want
Memiliki pasangan hidup akan sangat mengasyikkan dalam benak saya sebelum menikah karena saya akan dapat bercerita apapun setiap hari kepadanya, mengobrol kesana kemari, dan tentunya saya tidak akan pernah merasa kesepian karena sudah ada "teman hidup". Namun, ternyata Allah menjodohkan saya dengan seorang lelaki yang "cool" hehehe.. Karakternya mirip dengan ayah dan kakak laki-laki saya, tipe talk less do more. Jadilah saya justru cukup sering mencari waktu hanya untuk sekedar mengobrol dengan suami, apalagi setelah memiliki bayi.
pendahuluan dulu yah..hehe.. Jadi ceritanya untuk meningkatkan kualitas diri saya sebagai istri, ibu, dan IRT (ceilaah..) maka saya ikut kelas online bernama Institut Ibu Profesional. Saat ini saya memasuki tahap awal yaitu kelas Bunda Sayang. Tema kelas Bunda Sayang dari IIP yang pertama adalah mengenai komunikasi produktif,pas banget deh..hahaha.. Inti dari tema ini adalah komunikator mampu menyampaikan pesan kepada objek bicara secara tepat dan jelas. Indikator keberhasilannya adalah objek bicara bisa menerima pesan tersebut dan ada reaksi dari pesan yang diberikan. Objek yang saya pilih adalah suami karena putra saya masih berusia 11 bulan. komunikasi memang seringkali menjadi masalah karena saya yang cenderung banyak bicara dan suka "kode" tapi suami tipe yang lugas dan tidak banyak bicara, hadeuh.. Tema ini benar - benar menjadi tantangan bagi saya dan saya dangat berharap bisa berhasil, karena insya Allah akan memberikan dampak yang sangat positif bagi rumah tangga saya.
Tantangan hari pertama, saya ingin menyampaikan kepada suami apa yang saya harapkan dapat saya lakukan dalam rumah tangga kami. Namun tampaknya saya terlalu banyak berpikir dan pikiran menjadi terliputi oleh emosi karena hari itu saya juga sedang cukup lelah karena si kecil sedang rewel sekali. Ditambah suami sedang lelah dan sedang tidak fit. Dan hasilnya saya masih gagal dan terbawa emosi dalam mengkomunikasikan pesan tersebut. Pesan yang ingin saya sampaikan tidak memenuhi kaidah komunikasi produktif yaitu clear and clarify. Pesan yang ingin saya sampaikan tertutup oleh emosi sehingga tidak sepenuhnya jelas tersampaikan kepada suami. Alhasil apa yang mengganjal dalam hati saya tidak semuanya tersampaikan, dan suami pun tidak sepenuhnya mengerti maksud saya. Sepertinya saya harus bisa mengendalikan diri saya sendiri terlebih dahulu, mengontrol emosi saya dulu baru bicara dengan suami. Selain itu melihat situasi dan waktu yang tepat juga cukup penting. Baiklah, saya harus instropeksi dan mencoba nya lagi esok hari. Semangatt!!

Comments
Post a Comment